Selasa, 09 November 2010

METODE RISET ( Review Jurnal 1,2,3 )

Nama : Windi Dwi Saputro

Kelas : 3 ea 11

Npm : 11208292



REVIEW JURNAL 1

1.a. Tema / topik : Hiv Aids

b. Judul : Strategi penanggulangan Hiv Aids

pengarang : Holmes (Review of human immunodeficiency virus type 1-related opportunistic infections in sub-Saharan Africa

Tahun : 2003

c. Alasan : Dengan semakin meluasnya penyebaran virus Hiv aids diharapkan masyarakat mampu dan memahami apa itu penyakit Hiv Aids

Masalah : 1. Adakah obat yang mampu mengatasi virus Hiv Aids ?

2. Bagaimana jika sudah terjangkit Virus Hiv Aids ?

d. Metodologi

Data : Taking Risk of Taking Responsibility (Panos, London, 1999)

Variabel penelitian : Variabel Bebas

Terapan Penelitian : 1. Analisis data secara statistic deskriptif
2. Evaluasi keseluruhan

e. Hasil dan kesimpulan : Dengan melihat data maupun keterangan yang telah dijabarkan diatas, jelaslah bahwa penyakit/virus HIV sangat membahayakan bahkan lambat laun bisa mematikan. Untuk itu kita semua harus selalu waspada dengan cara menjauhkan diri dari segala perbuatan yang dapat menyebabkan penularan HIV/AIDS, terutama sex bebas dalam arti tanpa menggunakan alat kontrasepsi.

f. saran lanjutan : Bagi penulis berikutnya disarankan menambah variabel tingkat pembanding dan jumlah penderita Hiv Aids

REVIEW JURNAL 2

2.a. Tema / topik : Hiv Aids

b. Judul : Penyebaran Virus Hiv Aids

pengarang : Djoerban Z & Djauzi S

Tahun : 2006

c. Alasan : Hukuman sosial bagi penderita HIV/AIDS, umumnya lebih berat bila dibandingkan dengan penderita penyakit mematikan lainnya. Terkadang hukuman sosial tersebut juga turut tertimpakan kepada petugas kesehatan atau sukarelawan, yang terlibat dalam merawat orang yang hidup dengan HIV/AIDS.

Masalah : 1. Bagaimana cara penyebaran virus Hiv Aids ?

2. Berapa orang yang telah terinfeksi virus Hiv Aids ?

3. Infeksi opertunistik lannya ?

d. Metodologi

Data : Primer.

Variabel penelitian : Dengan tingkat penyebaran Hiv Aids.

1. Cepat

2. Sedang

3. Lambat

4. Sangat Lambat

Terapan Penelitian : 1. Menganalisis penyebaran Hiv Aids
2. Pemetaan karakteristik penderita Hiv Aids.

Tahap Uji T

e. Hasil dan kesimpulan

Hasil hanya 2 indikator yaitu :

Ho : Virus Hiv Aids dapat menyebabkan kematian.

Ha : Virus Hiv Aids tidak dapat menyebabkan kematian.

Jika nilai Ho lebih kecil dibanding dengan Ha maka, Ho ditolak. Berarti virus Hiv Aids dapat menyebabkan kematian

Kesimpulan : Pada umumnya virus Hiv Aids menyebabkan kematian dan dapat di derita oleh siapa saja.

f. Saran lanjutan : Diharapkan pendekatan ini akan digalakkan di banyak negara yang terinfeksi HIV paling parah, walaupun penerapannya akan berhadapan dengan sejumlah isu sehubungan masalah kepraktisan, budaya, dan perilaku masyarakat.

REVIEW JURNAL 3

3.a. Tema / topik : Hiv Aids

b. Judul : Patogenesis Hiv Aids

pengarang : Siregar, Fadizah A.

Tahun : 2004

c. Alasan dan Masalah : Kita semua mungkin sudah banyak mendengar cerita-cerita yang menyeramkan tentang Hiv Aids. Penyebrangan Aids itu berlangsung secara cepat dan mungkin sekrang sudah ada disekitar kita. Sampai sekarang belum ada obat yang bisa menyembuhkan AIDS, bahkan penyakit yang saat ini belum bisa dicegah dengan vaksin. Tapi kita semua tidak perlu takut. Jika kita berprilaku sehat dan bertanggung jawab serta senantiasa memegang teguh ajaran agama, maka kita akan terbebas dari Hiv Aids.

d. Metodologi

Data : Variabel Independen :

Tangible(X1), Reliability (X2), Responsiveness(X3), Assurance(X4), Empathy(X5)

Variabel Dependen :

Penderita Hiv yang masih hidup (Y1), Penderita Hiv yang sudah meninggal (Y2).

Penderita Hiv Aids mencakup :

1. Afrika

2. Asia Selatan

3. Asia Tenggara

Model : Model sampling

Sampel diambil secara acak sistematik dan dihitung berdasarkan rumus sampel minimal dengan menetapkan jumlah sampel dibulatkan menjadi 100 responden. Dengan tingkat kepercayaan 0,01 dalam pengujian normalitas.

Terapan Penelitian : 1. Pengujian Validitas untuk skala penderita Hiv Aids

Afrika , Asia Selatan , Asia Tenggara.

Uji Validitas

Bila setiap indikator memiliki critical ratio yang lebih besar dari 2 kali standar errornya, maka menunjukkan bahwa indikator itu secara valid mengukur apa yang seharusnya diukur dalam model yang disajikan.

2. pengujian reliabilitas alat ukur

Dalam penelitian reliabilitas eksploratori reliabilitas yang sedang antara 0,5-0,6 sudah cukup untuk menguji sebuah hasil penelitian.

3. Teknik Pengujian Hipotesis

Untuk menguji hipotesis dugunakan Struktural Equation Modelign(SEM)yaitu bentuk perluasan atau kombinasi teknik untuk pengujian sebuah rangkaian hubungan yang relatif rumit secara simultan, pengoperasiannya dengan paket program AMOS 5.

e. Hasil dan pembahasan : a. Pengujian Instrumen Penelitian (Validitas dan Reliabilitas)

b. Pengujian Asumsi-Asumsi SEM

c. Uji Korelasi

d. Uji Model

e. Analisis atas Direct Effect, Inderect Effect, dan Total Effect

Kesimpulan : Hasil penelitian menunjukkan untuk pengaruh dimensi tangible (X1) terhadap Penderita Hiv yang masih hidup (Y1) diperoleh nilai C.R sebesar 3,290 (p=0,001) menunjukkan bahwa tangible berpengaruh signifikan terhadap virus Hiv, pengaruh antara reliability(X2) terhadap Penderita Hiv yang masih hidup ( Y1) diperoleh C.R sebesar 0,853 (p=0,394) sehingga reliability berpengaruh signifikan terhadap, Penderita Hiv yang masih hidup. pengaruh antara dimensi responsiveness(X3) terhadap Penderita Hiv yang masih hidup diperoleh nilai C.R sebesar 1.116 (p=0,264) sehingga responsiveness tidak berpengaruh signifikan terhadap Penderita Hiv yang masih hidup. Pengaruh antara assurance diperoleh C.R sebesar 2,420 (p=0,016) sehingga assurance berpengaruh signifikan terhadap. Penderita Hiv yang masih hidup Pengaruh antara dimensi emphaty(X5) terhadap Penderita Hiv yang masih hidup diperoleh nilai CR sebesar 0,608 (p=0,543) sehingga emphaty berpengaruh signifikan terhadap. Penderita Hiv yang masih hidup Pengaruh antara Penderita Hiv yang masih hidup (Y1) dengan Penderita Hiv yang sudah meninggal (Y2) diperoleh C.R sebesar (7,708 (p=0,000). Maka setiap indikator pasti saling berkaitan dengan adanya hubungan timbal balik antar satu sama lain yang memeberikan efek yang signifikan maupun tidak signifikan terhadap Hiv Aids.

f. Saran lanjutan : Dengan demikian jika ingin terhindar dari Hiv Aids kita harus berprilaku sehat dan bertanggung jawab serta senantiasa memegang teguh ajaran agama, maka kita akan terbebas dari Hiv Aids.

Jumat, 05 November 2010

Pengaruh Budaya Terhadap Perilaku Konsumen

PENDAHULUAN

Sebagaimana kita ketahui, bahwa selain factor internal, seorang konsumen dalam memutuskan membeli sebuah produk dan jasa juga dipengaruhi oleh factor eksternal . Diantara ketiga pengaruh yaitu :

1.Pengaruh budaya terhadap perilaku konsumen

2.Peran anggota keluarga dalam pengambilan keputusan pembelian

3.Peranan kelompok acuan dalam keputusan pembelian.

Diantara ketiga factor tersebut saya ingin memilih yang nomor satu yaitu
Pengaruh Budaya Terhadap Perilaku Konsumen hal ini dikarenakan memang
dilingkungan sekitar saya bahkan diri saya sendiri, saya akui memang factor budaya
cukup berpengaruh besar dalam proses pembelian, untuk itulah saya lebih memilih judul
ini daripada factor yang lainnya.

Penelitian mengenai budaya menjadi sangat penting karena budaya
mempengaruhi keseluruhan masyarakat itu sendiri. Dalam makalah ini akan dibahas
penerapan budaya serta pengaruhnya terhadap perilaku konsumen,misalnya dalam
pembelian suatu produk atau jasa.

Dalam kaitannya dengan perilaku konsumen, budaya dapat didefinisikan sebagai
sejumlah total dari beliefs values dancust oms yang dipelajari yang ditujukan pada
perilaku konsumen dari anggota masyarakat tertentu.

Dengan memahami beberapa bentuk budaya dari masyarakat, dapat membantu penjual atau produsen dalam memprediksi penerimaan konsumen terhadap produk mereka. Mulai dari bagaimana tanggapan konsumen, reaksi konsumen, ataupun kritik dari konsumennya. Pengaruh budaya sangat alami dan otomatis sehingga pengaruhnya terhadap perilaku sering diterima begitu saja, atau dalam kata lainnya pengaruh ini sangat tidak disadari oleh masyarakat, barulah ketika kita berhadapan dengan masyarakat yang memiliki budaya, nilai dan kepercayaan yang berbeda dengan kita, kita baru menyadari bagaimana budaya telah membentuk perilaku kita. Yang kemudian akan muncul apresiasi terhadap budaya kita sendiri bila kita berhadapan dengan budaya yang berbeda. Misalnya, di budaya yang bisa melakukan pernikahan sesame jenis tentu akan merasa bahwa itu budaya yang tidak masuk akal dan merupakan hal yang tidak baik dibandingkan dengan budaya yang memang melarang keras hubungan sesama jenis.

PEMBAHASAN

Untuk lebih memahami tentang tema ini akan menjelaskan 5 aspek
tentang Negara Jepang sebagai tolak ukur bahwa budaya memanglah sangat berpengaruh
pada perilaku konsumen.

1.Health ( segi kesehatan)

2.Youthfulness (segi keawetmudaan)

3.Freedom ( kebebasan )

4.Efficien dan practice ( daya guna dan praktis )

5.Activity ( aktivitas)

Berikut ini akan dibahas 5 aspek bahwa budaya luar masuk ke Indonesia sehingga memperngaruhi dalam perilaku konsumen :

1. Health ( segi kesehatan)

Orang-orang di Jepang sangat memperhatikan kesehatan dan kebugaran tubuhnya, bahkan untuk para wanita nya tubuh kurus langsing merupakan hal yang mutlak dimilik oleh setiap wanita dan ini telah dianggap sebagai suatu nilai inti. Nilai inti pada masyarakat Jepang terutama wanita ini tergambarkan melalui berbagai cara misalnya saja olahraga seperti fitness dan jogging.

Karena hal itulah maka adanya peningkatan dalam penjualan alat-alat olahraga dan tablet pelangsing tubuh atau bahkan tea yang bisa melangsingkan tubuh serta adanya peningkatan dalam penjualan vitamin. Berdasarkan trend atau budaya ini, berkembang suatu pendapat bahwa memang budaya lah yang menyebabkan pola perilaku masyarakat jepang berubah dan meningkatkan daya beli produk-produk yang sifatnya melangsingkan atau menyehatkan tubuh.

2. Youthfulness (segi keawetmudaan)

Keawetmudaan (youthfulness) sangat berbeda dengan pemuda (youth) yang merupakan suatu tingkatan umur. Orang Jepang sangat terobsesi untuk terlihat muda dan berperilaku seperti orang yang muda, meskipun berlawanan dengan usia mereka sebenarnya. Bagi masyarakat jepang, selain melalui pikiran-pikiran keawetmudaaan juga terpancarkan dari perilaku mereka., yang kadang-kadang diekspresikan melalui kata-kata seperti berjiwa muda, bersemangat muda, dan berpenampilan muda atau biasa disebut dengan up to date sehingga produsen kosmetik berbondong-bondong menciptakan produk yang menggambarkan betapa banyak wanita yang berperang melawan penuaan dini. Perusahaan-perusahaan periklanan memanfaatkan ketakutan penuaan terutama bagikaum wanita ini untuk menciptakan suatu trend di masyarakat mengenai pentingnyamenjaga kemudaan dan menanamkan rasa takut akan penuaan. Tema-tema iklan dibuatdengan mengumbar janji bahwa konsumen akan memperoleh keuntungan bila terlihat awet muda dan tentu akan lebih menyenangkan jika tua´ itu datangnya sangat lama.

3. Freedom ( kebebasan )

Seperti kita ketahui bahwa banyak Negara-negara luar penganut budaya kebebesan, dan salah satunya adalah Negara Jepang, dalam sejarah seperti kita ketahui Jepang selalu berpendapat bahwa kebebasan berbicara, kebebasan pers, sebagai nilai utama.Perkembangan dari kepercayaan akan kebebasan ini, Jepang percaya bahwa mereka punya kebebasan untuk memilih. Hal ini dapat terlihat dari bebasnya gaya berpakaian mereka, mulai dari pejalan kaki yang bisa menggunakan jas, sangat berbeda dengan di Indonesia, jika ada pejalan kaki yang menggunakan jas pasti terlihat aneh, hingga seragam sekolah di Jepang yang sangat unik menurut saya. Hal ini direfleksikan dengan kompetisi dari merk dan variasi produk.Pada banyak pilihan produk baik ukuran, warna, gaya, sehingga masyarakat Jepang terlihat lebihf ashionable ketimbang di Indonesia. Ini juga menjelaskan kenapa banyak perusahaan menawarkan konsumen banyak pilihan.

4. Efficien dan practice ( daya guna dan praktis )

Efisien merupakan sesuatu yang hemat waktu dan usaha. Sedangkan praktis berhubungan dengan produk yang baru membuat pekerjaan dapat dilakukan dengan lebih mudah dalam memecahkan masalah.

Ilustrasi yang mudah menggambarkan hal ini adalah banyaknya makanan dan minuman cepat saji yang tersedia di berbagai tempat di Jepang, mulai dari mie instan, bubur instan, berbagai minuman botol isntan, hingga bumbu untuk memasak pun isntan. Karena memang kita tahu bahwa masyarakat Jepang sangat menghargai waktu, dan tekhnologi pula lah yang membuat semua menjadi serba efektif dan lebih praktis.

5. Activity ( aktivitas)

Menjadi sibuk merupakan bagian dari gaya hidup masyarakat Jepang. Gaya hidup ini seringkali dikomentari oleh pendatang dari luar negri, kenapa orang-orang Jepang selalu berlari dan sepertinya tidak pernah menjadi relax. Aktivitas ini memiliki dampak pada konsumsi barang.


KESIMPULAN

Dari 5 aspek tolak ukur budaya Jepang yang masuk ke Indonesia sudah bisa terlihat jelas
bahwa budaya memang sangat mempengaruhi perilaku konsumen, mulai dari pola hidup yang
mungkin secara tidak sadar terpengaruh yang memungkinkan adanya daya beli dalam pengaruh
budaya tersebut.

Memang betul perilaku konsumen bisa dari gaya hidup contoh nyata yang mungkin dapat
lebih memperjelasnya adalah Starbuck Café Jika kita lihat, buat apa buka kedai kopi? Di
pinggir jalan juga banyak tersedia warung kopi. Nah, budaya masyarakat kota metropolitan itu selalu mengikuti tren yang memang sedang berlaku. Oleh karena itu, ketika tren muncul adanya kedai kopi yangcozy, tempatnya menyenangkan bisahot spot gratis atau ketemu sama
teman-temang maupun rekan bisnis lainnya tempat itu bisa sangat nyaman dijadikan tempat
ngobrol ataupun bertransaksi, lalu ditambah ada hotspot area yg membuat pengunjung bisa
internet scara gratis (yang masih budaya Indonesia) membuat kedai tersebut bisa mendatangkan
pengunjung yang banyak, kita tahu semua bahwa kedai kopi itu memang berasal dari luar negeri.

Jadi kesimpulan terakhir menurut saya adalah bahwa memang benar budaya sangat
memperngaruhi perilaku manusia, tidak hanya dari segi aspek pola hidup saja tetapi dari daya
belinya juga, untuk itu kita harus pintar menyaring budaya-budaya luar yang bisa kapan saja dan
melalui apa saja masuk ke Indonesia, budaya positif dapat kita tiru atau ambil, dan sebaliknya
ketika budaya itu buruk dan kita semua sebagai masyarakat Indonesia tidak bisa menolaknya,
maka bangsa ini pun akan semakin terpuruk.

DAFTAR PUSTAKA

Hurriyati, Ratih. 2005.Bauran Pemasaran dan Loyalitas Konsumen. Bandung: Alfabeta.

Umar, Husein.2005. Riset Pemasaran dan Perilaku Konsumen. Jakarta: Gramedia

Strategi Pemasaran.Jakarta: Erlangga

Pengaruh Budaya Terhadap Perilaku Konsumen

PENDAHULUAN

Sebagaimana kita ketahui, bahwa selain factor internal, seorang konsumen dalam memutuskan membeli sebuah produk dan jasa juga dipengaruhi oleh factor eksternal . Diantara ketiga pengaruh yaitu :
1.Pengaruh budaya terhadap perilaku konsumen
2.Peran anggota keluarga dalam pengambilan keputusan pembelian
3.Peranan kelompok acuan dalam keputusan pembelian.
Diantara ketiga factor tersebut saya ingin memilih yang nomor satu yaitu
Pengaruh Budaya Terhadap Perilaku Konsumen hal ini dikarenakan memang
dilingkungan sekitar saya bahkan diri saya sendiri, saya akui memang factor budaya
cukup berpengaruh besar dalam proses pembelian, untuk itulah saya lebih memilih judul
ini daripada factor yang lainnya.
Penelitian mengenai budaya menjadi sangat penting karena budaya
mempengaruhi keseluruhan masyarakat itu sendiri. Dalam makalah ini akan dibahas
penerapan budaya serta pengaruhnya terhadap perilaku konsumen,misalnya dalam
pembelian suatu produk atau jasa.
Dalam kaitannya dengan perilaku konsumen, budaya dapat didefinisikan sebagai
sejumlah total dari beliefs values dancust oms yang dipelajari yang ditujukan pada
perilaku konsumen dari anggota masyarakat tertentu.
Dengan memahami beberapa bentuk budaya dari masyarakat, dapat membantu penjual atau produsen dalam memprediksi penerimaan konsumen terhadap produk mereka. Mulai dari bagaimana tanggapan konsumen, reaksi konsumen, ataupun kritik dari konsumennya. Pengaruh budaya sangat alami dan otomatis sehingga pengaruhnya terhadap perilaku sering diterima begitu saja, atau dalam kata lainnya pengaruh ini sangat tidak disadari oleh masyarakat, barulah ketika kita berhadapan dengan masyarakat yang memiliki budaya, nilai dan kepercayaan yang berbeda dengan kita, kita baru menyadari bagaimana budaya telah membentuk perilaku kita. Yang kemudian akan muncul apresiasi terhadap budaya kita sendiri bila kita berhadapan dengan budaya yang berbeda. Misalnya, di budaya yang bisa melakukan pernikahan sesame jenis tentu akan merasa bahwa itu budaya yang tidak masuk akal dan merupakan hal yang tidak baik dibandingkan dengan budaya yang memang melarang keras hubungan sesama jenis.

PEMBAHASAN

Untuk lebih memahami tentang tema ini akan menjelaskan 5 aspek
tentang Negara Jepang sebagai tolak ukur bahwa budaya memanglah sangat berpengaruh
pada perilaku konsumen.
1.Health ( segi kesehatan)
2.Youthfulness (segi keawetmudaan)
3.Freedom ( kebebasan )
4.Efficien dan practice ( daya guna dan praktis )
5.Activity ( aktivitas)
Berikut ini akan dibahas 5 aspek bahwa budaya luar masuk ke Indonesia sehingga memperngaruhi dalam perilaku konsumen :



1. Health ( segi kesehatan)
Orang-orang di Jepang sangat memperhatikan kesehatan dan kebugaran tubuhnya, bahkan untuk para wanita nya tubuh kurus langsing merupakan hal yang mutlak dimilik oleh setiap wanita dan ini telah dianggap sebagai suatu nilai inti. Nilai inti pada masyarakat Jepang terutama wanita ini tergambarkan melalui berbagai cara misalnya saja olahraga seperti fitness dan jogging.
Karena hal itulah maka adanya peningkatan dalam penjualan alat-alat olahraga dan tablet pelangsing tubuh atau bahkan tea yang bisa melangsingkan tubuh serta adanya peningkatan dalam penjualan vitamin. Berdasarkan trend atau budaya ini, berkembang suatu pendapat bahwa memang budaya lah yang menyebabkan pola perilaku masyarakat jepang berubah dan meningkatkan daya beli produk-produk yang sifatnya melangsingkan atau menyehatkan tubuh.
2. Youthfulness (segi keawetmudaan)
Keawetmudaan (youthfulness) sangat berbeda dengan pemuda (youth) yang merupakan suatu tingkatan umur. Orang Jepang sangat terobsesi untuk terlihat muda dan berperilaku seperti orang yang muda, meskipun berlawanan dengan usia mereka sebenarnya. Bagi masyarakat jepang, selain melalui pikiran-pikiran keawetmudaaan juga terpancarkan dari perilaku mereka., yang kadang-kadang diekspresikan melalui kata-kata seperti berjiwa muda, bersemangat muda, dan berpenampilan muda atau biasa disebut dengan up to date sehingga produsen kosmetik berbondong-bondong menciptakan produk yang menggambarkan betapa banyak wanita yang berperang melawan penuaan dini. Perusahaan-perusahaan periklanan memanfaatkan ketakutan penuaan terutama bagikaum wanita ini untuk menciptakan suatu trend di masyarakat mengenai pentingnyamenjaga kemudaan dan menanamkan rasa takut akan penuaan. Tema-tema iklan dibuatdengan mengumbar janji bahwa konsumen akan memperoleh keuntungan bila terlihat awet muda dan tentu akan lebih menyenangkan jika tua´ itu datangnya sangat lama.
3. Freedom ( kebebasan )
Seperti kita ketahui bahwa banyak Negara-negara luar penganut budaya kebebesan, dan salah satunya adalah Negara Jepang, dalam sejarah seperti kita ketahui Jepang selalu berpendapat bahwa kebebasan berbicara, kebebasan pers, sebagai nilai utama.Perkembangan dari kepercayaan akan kebebasan ini, Jepang percaya bahwa mereka punya kebebasan untuk memilih. Hal ini dapat terlihat dari bebasnya gaya berpakaian mereka, mulai dari pejalan kaki yang bisa menggunakan jas, sangat berbeda dengan di Indonesia, jika ada pejalan kaki yang menggunakan jas pasti terlihat aneh, hingga seragam sekolah di Jepang yang sangat unik menurut saya. Hal ini direfleksikan dengan kompetisi dari merk dan variasi produk.Pada banyak pilihan produk baik ukuran, warna, gaya, sehingga masyarakat Jepang terlihat lebihf ashionable ketimbang di Indonesia. Ini juga menjelaskan kenapa banyak perusahaan menawarkan konsumen banyak pilihan.
4. Efficien dan practice ( daya guna dan praktis )
Efisien merupakan sesuatu yang hemat waktu dan usaha. Sedangkan praktis berhubungan dengan produk yang baru membuat pekerjaan dapat dilakukan dengan lebih mudah dalam memecahkan masalah.
Ilustrasi yang mudah menggambarkan hal ini adalah banyaknya makanan dan minuman cepat saji yang tersedia di berbagai tempat di Jepang, mulai dari mie instan, bubur instan, berbagai minuman botol isntan, hingga bumbu untuk memasak pun isntan. Karena memang kita tahu bahwa masyarakat Jepang sangat menghargai waktu, dan tekhnologi pula lah yang membuat semua menjadi serba efektif dan lebih praktis.
5. Activity ( aktivitas)
Menjadi sibuk merupakan bagian dari gaya hidup masyarakat Jepang. Gaya hidup ini seringkali dikomentari oleh pendatang dari luar negri, kenapa orang-orang Jepang selalu berlari dan sepertinya tidak pernah menjadi relax. Aktivitas ini memiliki dampak pada konsumsi barang.



KESIMPULAN
Dari 5 aspek tolak ukur budaya Jepang yang masuk ke Indonesia sudah bisa terlihat jelas
bahwa budaya memang sangat mempengaruhi perilaku konsumen, mulai dari pola hidup yang
mungkin secara tidak sadar terpengaruh yang memungkinkan adanya daya beli dalam pengaruh
budaya tersebut.
Memang betul perilaku konsumen bisa dari gaya hidup contoh nyata yang mungkin dapat
lebih memperjelasnya adalah Starbuck Café Jika kita lihat, buat apa buka kedai kopi? Di
pinggir jalan juga banyak tersedia warung kopi. Nah, budaya masyarakat kota metropolitan itu selalu mengikuti tren yang memang sedang berlaku. Oleh karena itu, ketika tren muncul adanya kedai kopi yangcozy, tempatnya menyenangkan bisahot spot gratis atau ketemu sama
teman-temang maupun rekan bisnis lainnya tempat itu bisa sangat nyaman dijadikan tempat
ngobrol ataupun bertransaksi, lalu ditambah ada hotspot area yg membuat pengunjung bisa
internet scara gratis (yang masih budaya Indonesia) membuat kedai tersebut bisa mendatangkan
pengunjung yang banyak, kita tahu semua bahwa kedai kopi itu memang berasal dari luar negeri.
Jadi kesimpulan terakhir menurut saya adalah bahwa memang benar budaya sangat
memperngaruhi perilaku manusia, tidak hanya dari segi aspek pola hidup saja tetapi dari daya
belinya juga, untuk itu kita harus pintar menyaring budaya-budaya luar yang bisa kapan saja dan
melalui apa saja masuk ke Indonesia, budaya positif dapat kita tiru atau ambil, dan sebaliknya
ketika budaya itu buruk dan kita semua sebagai masyarakat Indonesia tidak bisa menolaknya,
maka bangsa ini pun akan semakin terpuruk.

DAFTAR PUSTAKA
Hurriyati, Ratih. 2005.Bauran Pemasaran dan Loyalitas Konsumen. Bandung: Alfabeta.
Umar, Husein.2005. Riset Pemasaran dan Perilaku Konsumen. Jakarta: Gramedia
Strategi Pemasaran.Jakarta: Erlangga