Senin, 28 Februari 2011

Sistem Keuangan Dunia

KOMP. LEMBAGA KEUANGAN PERBANKAN
PRIHANTORO

Sistem keuangan dunia

. Sistem keuangan global (GFS) adalah sistem keuangan yang terdiri dari lembaga dan regulator yang bekerja pada tingkat internasional, sebagai lawan dari mereka yang bertindak pada tingkat nasional atau regional . Para pemain utama adalah lembaga-lembaga global, seperti Dana Moneter Internasional dan Bank for International Settlements , lembaga nasional dan departemen pemerintah, misalnya, bank sentral dan kementerian keuangan , lembaga-lembaga swasta yang bekerja pada skala global, misalnya, bank-bank dan hedge fund , dan regional lembaga, misalnya, zona Euro .
Kekurangan dan reformasi GFS telah panas dibahas dalam beberapa tahun terakhir.
Internasional (IMF), Bank Dunia di Bretton Woods, dan penghapusan nilai tukar tetap pada tahun 1973. KESAWAN Tonggak Sejarah Lembaga keuangan adalah Standar Emas (1871-1932), pendirian Dana Moneter Internasional (IMF), Bank Sejarah
Sejarah lembaga keuangan harus dibedakan dari sejarah ekonomi dan sejarah uang. Sejarah Lembaga keuangan Harus dibedakan Dari Sejarah Ekonomi Sejarah dan uang. Di Eropa, hal itu mungkin sudah mulai dengan pertukaran komoditi pertama, Bourse Bruges di 1309 dan pemodal pertama dan bank-bank di abad 15-17 di Eropa tengah dan barat. Di eropa, mungkin hal ITU Sudah Mulai Artikel Baru Yang Pertama pertukaran komoditi, Yang Bourse Bruges PADA 1309 dan Yang Pertama bank dan pemodal -17 di abad 15 di eropa Barat dan Tengah. Pemodal global pertama Fuggers (1487) di Jerman, saham perusahaan pertama di Inggris (Rusia Perusahaan 1553); pasar valuta asing pertama (Bursa Royal 1566, Inggris); bursa pertama (Bursa Efek Amsterdam 1602). Para cukong global Fuggers Pertama (1487) di Jerman, anak pajak tangguhan saham Pertama di Inggris (Anak Rusia 1553), pertukaran pasar Pertama Mata (Bursa Royal 1566, Inggris), Yang Pertama bursa saham (Bursa Efek KESAWAN Amsterdam 1602).
Tonggak dalam sejarah lembaga keuangan adalah Gold Standard (1871-1932), pendirian Dana Moneter Dunia di Bretton Woods, dan penghapusan Nilai Tukar Tetap PADA years 1973.

Lembaga

Lembaga-lembaga internasional
Lembaga internasional yang paling menonjol adalah IMF, Bank Dunia dan WTO: Lembaga Internasional Yang menonjol adalah pagar IMF, Bank Dunia dan WTO:
• Dana Moneter Internasional membuat akun saldo rekening pembayaran internasional negara-negara anggota. Dana Moneter Internasional menyimpan Rekening Neraca Pembayaran Internasional Penggunaannya anggota Negara. IMF bertindak sebagai lender of last resort

• bagi anggota dalam kesulitan keuangan, misalnya, krisis mata uang, masalah keseimbangan pertemuan pembayaran pada saat defisit dan default hutang. IMF bertindak sebagai lender of last resort BAGI anggota KESAWAN kesulitan keuangan, misalnya, krisis mata uang, keseimbangan Pertemuan Pembayaran PADA Masalah Saat defisit dan Hutang default. Keanggotaan berdasarkan kuota, atau jumlah uang negara untuk menyediakan dana relatif terhadap ukuran perannya dalam sistem perdagangan internasional. Keanggotaan berdasarkan kuota, Aset Negara uang atau untuk menyediakan dana relatif terhadap ukuran perannya KESAWAN sistem perdagangan internasional.

Bank Dunia bertujuan untuk menyediakan dana, mengambil risiko kredit atau menawarkan persyaratan yang menguntungkan bagi proyek-proyek pembangunan terutama di negara-negara berkembang yang tidak dapat diperoleh oleh sektor swasta. Bank Dunia bertujuan untuk menyediakan dana, mengambil risiko atau menawarkan Kredit Yang menguntungkan Pembangunan penentuan waktu-penentuan waktu terutama di Negara-Negara berkembang Yang regular tidak dapat diperoleh disektor Swasta Dibuat. Bank-bank pembangunan lainnya multilateral dan lembaga keuangan internasional juga memainkan peran regional atau fungsional tertentu. Yang lain bank-bank Pembangunan dan Lembaga keuangan multilateral Juga memainkan Peran Internasional daerah tertentu atau fungsional.

• Organisasi Perdagangan Dunia mengendap sengketa perdagangan dan melakukan negosiasi perjanjian perdagangan internasional dalam pembicaraan putaran nya (sekarang Putaran Doha). Organisasi Perdagangan Dunia yang mengendap sengketa perdagangan dan melakukan negosiasi perjanjian perdagangan KESAWAN Internasional pembicaraan putaran nya (sekarang Putaran Doha).

Juga penting adalah Bank for International Settlements, organisasi antar-pemerintah untuk bank sentral di seluruh dunia. Juga parts adalah Bank for International Settlements, Antar pemerintah Yang Organisasi untuk bank sentral di seluruh Dunia. Ini memiliki badan anak dua yang aktor penting dalam sistem keuangan global di kanan mereka sendiri – Komite Basel pada Pengawasan Perbankan, dan Stabilitas Keuangan Dewan. Ini memiliki badan anak doa Yang aktor parts KESAWAN sistem keuangan global di Kanan mereka Sendiri – Artikel Baru Komite Basel untuk Pengawasan, dan Dewan Stabilitas Keuangan.
Di sektor swasta, organisasi penting adalah Institute of International Finance, yang mencakup sebagian besar bank terbesar di dunia komersial dan bank investasi. Disektor di Swasta, adalah Organisasi parts Institute of International Finance, Yang mencakup sebagian Besar Dunia terbesarnya di bank bank-bank dan Rp Rp Anak Investment.

Instansi Pemerintah

Pemerintah bertindak dalam berbagai cara sebagai aktor di GFS, terutama melalui departemen keuangan mereka: mereka mengesahkan undang-undang dan peraturan untuk pasar keuangan, dan mengatur beban pajak untuk pemain swasta, misalnya, bank, dana dan pertukaran. Pemerintah KESAWAN berbagai cara bertindak sebagai aktor di GFS, terutama Canada Press keuangan mereka: mereka mengesahkan dan konsisten menyediakan undang-undang untuk pasar keuangan, dan mengatur sales Pajak untuk Pemain Swasta, misalnya, bank, dana dan pertukaran. Mereka juga berpartisipasi aktif melalui belanja discretionary. Mereka Juga berpartisipasi Aktif Canada Pengeluaran discretionary. Mereka terkait erat (meskipun di kebanyakan negara independen) untuk bank sentral bahwa masalah utang pemerintah, tingkat suku bunga yang ditetapkan dan persyaratan deposit, dan campur tangan dalam pasar valuta asing. Mereka Berlangganan erat (meskipun di kebanyakan Negara TUBINDO) untuk bank sentral bahwa pemerintah Masalah Utang, mengatur suku bunga dan persyaratan berjangka, campur Tangan KESAWAN pasar valuta dan Mata.

Peserta Swasta

Pemain Aktif saham KESAWAN, – Kewajiban -, Mata valuta -, derivatif – dan Komoditas-pasar, Perbankan dan Investment:, obligasi – -, valuta asing – -, derivatif dan-komoditi pasar, dan perbankan investasi, termasuk aktif dalam stok Pemain , termasuk:
• Bank Umum Bank Umum
• Hedge dana dan Private Equity dan Hedge Dana Private Equity
• Dana Pensiun Dana pensiun
• Anak Perusahaan asuransi Asuransi
• Reksa Dana Reksa dana
• Sovereign Sovereign dana kekayaan kekayaan Dana

Lembaga Regional
Contohnya adalah: Contohnya adalah:
• Negara-Negara Independen Commonwealth (CIS) Persemakmuran Negara Independen (CIS)
• Zona Eurozone euro
• Mercosur Mercosur
• Amerika Utara Perjanjian Perdagangan Bebas (NAFTA) Amerika Utara Perjanjian Perdagangan

Bebas (NAFTA)
Perspectives ( Perspektif )
Ada tiga pendekatan utama untuk melihat dan memahami sistem keuangan global.
liberal memegang pandangan bahwa pertukaran mata uang harus ditentukan bukan oleh institusi negara melainkan individu pemain di tingkat pasar. This view has been labelled as the Washington Consensus . Pandangan ini telah diberi label sebagai Konsensus Washington . This view is challenged by a social democratic front which advocates the tempering of market mechanisms, and instituting economic safeguards in an attempt to ensure financial stability and redistribution . Pandangan ini ditantang oleh demokrasi sosial depan yang menganjurkan tempering mekanisme pasar, dan melembagakan perlindungan ekonomi dalam upaya untuk menjamin stabilitas keuangan dan redistribusi . Examples include slowing down the rate of financial transactions, or enforcing regulations on the behaviour of private firms. Contohnya termasuk memperlambat laju transaksi keuangan, atau menegakkan peraturan tentang perilaku perusahaan swasta. Outside of this contention of authority and the individual, neoMarxists are highly critical of the modern financial system in that it promotes inequality between state players, particularly holding the view that the political North abuse the financial system to exercise control of developing countries’ economies. Di luar pertarungan kekuasaan dan individu, neoMarxists sangat kritis terhadap sistem keuangan modern dalam mempromosikan ketimpangan antara pemain negara, terutama memegang pandangan bahwa penyalahgunaan Utara politik sistem keuangan untuk melakukan kontrol dari ‘negara-negara ekonomi berkembang.

Minggu, 05 Desember 2010

Perilaku Konsumen Tugas 3

PERILAKU KONSUMEN

PENDAHULUAN

1. Konsumen Individu

Pilihan merek dipengaruhi oleh kebutuhan konsumen, persepsi atas karakteristik merek, dan sikap ke arah pilihan. Sebagai tambahan, pilihan merek dipengaruhi oleh demografi konsumen, gaya hidup, dan karakteristik personalia.

2. Pengaruh Lingkungan

Lingkungan pembelian konsumen ditunjukkan oleh budaya (norma kemasyarakatan, pengaruh kedaerahan atau kesukuan), kelas sosial (keluasan grup sosial ekonomi atas harta milik konsumen), grup tata muka (teman, anggota keluarga, dan grup referensi) dan faktor menentukan yang situasional (situasi dimana produk dibeli seperti keluarga yang menggunakan mobil dan kalangan usaha).

3. Marketing strategy

Merupakan variabel dimana pemasar mengendalikan usahanya dalam memberitahu dan mempengaruhi konsumen. Variabel-variabelnya adalah barang, harga, periklanan dan distribusi yang mendorong konsumen dalam proses pengambilan keputusan. Pemasar harus mengumpulkan informasi dari konsumen untuk evaluasi kesempatan utama pemasaran dalam pengembangan pemasaran. Kebutuhan ini digambarkan dengan garis panah dua arah antara strategi pemasaran dan keputusan konsumen pemasaran memberikan informasi kepada organisasi pemasaran mengenai kebutuhan konsumen, persepsi tentang karakteristik merek, dan sikap terhadap pilihan merek. Strategi pemasaran kemudian dikembangkan dan diarahkan kepada konsumen.

Ketika konsumen telah mengambil keputusan kemudian evaluasi pembelian masa lalu, digambarkan sebagai umpan balik kepada konsumen individu. Selama evaluasi, konsumen akan belajar dari pengalaman dan pola pengumpulan informasi mungkin berubah, evaluasi merek, dan pemilihan merek. Pengalamn konsumsi secara langsung akan berpengaruh apakah konsumen akan membeli merek yang sama lagi.



PEMBAHASAN

A. PENGAMBILAN KEPUTUSAN

Tipologi pengambilan keputusan konsumen :

1. Keluasan pengambilan keputusan (the extent of decision making)

Menggambarkan proses yang berkesinambungan dari pengambilan keputusan menuju kebiasan. Keputusan dibuat berdasrkan proses kognitip dari penyelidikan informasi dan evaluasi pilihan merek. Disisi lain, sangat sedikit atau tidak ada keputusan yang mungkin terjadi bila konsumen dipuaskan dengan merek khusus dan pembelian secara menetap.

2. Dimensi atau proses yang tidak terputus dari keterlibatan kepentingan pembelian yang tinggi ke yang rendah.

Keterlibatan kepentingan pembelian yang tinggi adalah penting bagi konsumen. Pembelian berhubungan secara erat dengan kepentingan dan image konsumen itu sendiri. Beberapa resiko yang dihadapi konsumen adalah resiko keuangan , sosial, psikologi. Dalam beberapa kasus, untuk mempertimbangkan pilihan produk secara hati-hati diperlukan waktu dan energi khusus dari konsumen. Keterlibatan kepentingan pembelian yang rendah dimana tidak begitu penting bagi konsumen, resiko finansial, sosial, dan psikologi tidak begitu besar. Dalam hal ini mungkin tidak bernilai waktu bagi konsumen, usaha untuk pencarian informasi tentang merek dan untuk mempertimbangkan pilihan yang luas. Dengan demikian, keterlibatan kepentingan pembelian yang rendah umumnya memerlukan proses keputusan yang terbatas “ a limited process of decision making”. Pengambilan keputusan vs kebiasaan dan keterlibatan kepentingan yang rendah vs keterlibatan kepentingan yang tinggi menghasilkan empat tipe proses pembelian konsumen.

B. EMPAT TIPE PROSES PEMBELIAN KONSUMEN :

1. Proses “ Complex Decision Making “, terjadi bila keterlibatan kepentingan tinggi pada pengambilan keputusan yang terjadi. Contoh pengambilan untuk membeli sistem fotografi elektronik seperti Mavica atau keputusan untuk membeli mobil. Dalam kasus seperti ini, konsumen secara aktif mencari informasi untuk mengevaluasi dan mempertimbangkan pilihan beberapa merek dengan menetapkan kriteria tertentu seperti kemudahan dibawa dan resolusi untuk sistem kamera elektronik, dan untuk mobil adalah hemat, daya tahan tinggi, dan peralatan. Subjek pengambilan keputusan yang komplek adalah sangat penting. Konsep perilaku kunci seperti persepsi, sikap, dan pencarian informasi yang relevan untuk pengembangan stratergi pemasaran.

2. Proses “ Brand Loyalty “. Ketika pilihan berulang, konsumen belajar dari pengalaman masa lalu dan membeli merek yang memberikan kepuasan dengan sedikit atau tidak ada proses pertimbangan dalam pengambilan keputusan. Contoh pembelian sepatu karet basket merek Nike atau sereal Kellogg,s Nutrific. Dalam setiap kasus disini pembelian adalah penting untuk konsumen, sepatu basket karena keterlibatan kepentingan dalam olah raga, makanan sereal untuk orang dewasa karena kebutuhan nutrisi. Loyalitas merek muncul dari kepuasan pembelian yang lalu. Sehingga, pencarian informasi dan evaluasi merek terbatas atau tidak penting keberadaannya dalam konsumen memutuskan membeli merek yang sama.

Dua tipe yang lain dari proses pembelian konsumen dimana konsumen tidak terlibat atau keterlibatan kepentingan yang rendah dengan barangnya adalah tipe pengambilan keputusan terbatas dan proses inertia.

3. Proses “ Limited Decision Making “. Konsumen kadang-kadang mengambil keputusan walaupun mereka tidak memiliki keterlibatan kepentingan yang tinggi, mereka hanya memiliki sedikit pengalaman masa lalu dari produk tersebut. Konsumen membeli barang mencoba-coba untuk membandingkan terhadap makanan snack yang biasanya dikonsumsi. Pencarian informasi dan evaluasi terhadap pilihan merek lebih terbatas dibanding pada proses pengambilan keputusan yang komplek. Pengambilan keputusan terbatas juga terjadi ketika konsumen mencari variasi. Kepitusan itu tidak direncanakan, biasanya dilakukan seketika berada dalam toko. Keterlibatan kepentingan yang rendah, konsumen cenderung akan berganti merek apabila sudah bosan mencari variasi lain sebagai perilaku pencari variasi akan melakukan apabila resikonya minimal.

Catatan proses pengambilan keputusan adalah lebih kepada kekhasan konsumen daripada kekhasan barang. Karena itu tingkat keterlibatan kepentingan dan pengambilan keputusan tergantung lebih kepada sikap konsumen terhadap produk daripada karakteristik produk itu sendiri. Seorang konsumen mungkin terlibat kepentingan memilih produk makanan sereal dewasa karena nilai nutrisinya, konsumen lain mungkin lebih menekankan kepada kecantikan dan menggeser merek dalam mencari variasi.

4. Proses “ Inertia “. Tingkat kepentingan dengan barang adalah rendah dan tidak ada pengambilan keputusan. Inertia berarti konsumen membeli merek yang sama bukan karena loyal kepada merek tersebut, tetapi karena tidak ada waktu yang cukup dan ada hambatan untuk mencari alternatif, proses pencarian informasi pasif terhadap evaluasi dan pemilihan merek. Robertson berpendapat bahwa dibawah kondisi keterlibatan kepentingan yang rendah “ kesetiaan merek hanya menggambarkan convenience yang melekat dalam perilaku yang berulang daripada perjanjian untuk membeli merek tersebut” contoh pembelian sayur dan kertas tisu.
Pengambilan keputusan konsumen menghubungkan konsep perilaku dan strategi pemasaran melalui penjabaran hakekat pengambilan keputusan konsumen. Kriteria apa yang digunakan oleh konsumen dalam memilih merek akan memberikan petunjuk dalam manajemen pengembangan strategi.

Pengambilan keputusan konsumen adalah bukan proses yang seragam. Ada perbedaan antara
(1) pengambilan keputusan dan
(2) keputusan dengan keterlibatan kepentingan yang tinggi dan keputusan dengan keter-libatan kepentingan yang rendah.

C. PENGAMBILAN KEPUTUSAN YANG KOMPLEK (COMPLEKS DECISION MAKING)

Untuk memahami keputusan yang komplek maka perlu dipahami hakekat keterlibatan konsumen dengan suatu produk.
Kondisi keterlibatan konsumen akan suatu produk, apabila produk tersebut adalah :

1. Penting bagi konsumen karena image konsumen sendiri, misalnya pembelian mobil sebagai simbol status.
2. Memberikan daya tarik yang terus menerus kepada konsumen, misal dalam dunia mode ketertarikan konsumen model pakaian.
3. Mengandung resiko tertentu, misal resiko keuangan untuk membeli rumah, resiko teknologi untuk pembelian komputer.
4. Mempunyai ketertarikan emosional, misal pencinta musik membeli Sistem stereo yang baru.
5. Dikenal dalam kelompok grupnya atau “ badge “ value dari barang yang bersangkutan, seperti jaket kulit, mobil marsedes atau scarf dari Gucci.

Tipe Keterlibatan :

1. Situational involvement. Terjadi hanya dalam situasi khusus dan sementara dan umumnya bila pembelian itu dibutuhkan. Misalnya keputusan mengambil pendidikan MBA adalah karena kabutuhan untuk pekerjaan.
2. Enduring involvement, terus menerus dan lebih permanen umumnya terjadi karena ketertarikan yang berlangsung terus dalam kategori produk, walaupun pembelian itu dibutuhkan atau tidak, misalnya ketertarikan pada baju.
Baik enduring maupun situational involvement merupakan hasil proses pengambilan keputusan yang kompleks. “Badge” value adalah suatu kondisi dimana mencakup keterlibatan situasional dan keterlibatan yang menetap.

Penelitian dalam penagambilan keputusan meliputi lima tahap :
1) Penetapan masalah
2) Pencarian informasi
3) Evaluasi terhadap pilihan
4) Pemilihan
5) Hasil dari pilihan

Langkah-langkah ini dapat ditransformasikan ke dalam tahap-tahap keterlibatan konsumen dalam pengambilan keputusan yang komplek :
1) Need Aurosal
2) Proses informasi konsumen
3) Evaluasi Merek
4) Pembelian
5) Evaluasi sesudah pembelian

Dua Tipe Perilaku Konsumen
Berdasarkan pada tingkat keterlibatan dan pengambilan keputusan ada empat tipe perilaku konsumen :
Proses keterlibatan tinggi :
1. Pengambilan keputusan yang kompleks
2. Kesetiaan merek
Proses keterlibatan rendah :
1. pengambilan keputusan terbatas, dan
2. Inertia.


KESIMPULAN

Implikasi pengambilan keputusan dengan tingkat keterlibatan yang rendah terhadap pengembangan strategi pemasaran, beberapa pertanyaan strategi muncul :

• Haruskah pemasar berusaha membuat konsumen lebih terlibat terhadap suatu produk dengan tingkat keterlibatan yang rendah ?

• Haruskah pemasar merek yang tidak terkenal mengambil konsumen untuk menggeser dari perilaku inertia ke pencari variasi ?

• Haruskah pasar dikelompokkan berdasar tingkat keterlibatan konsumen ?
Pengaruh pertama terhadap pilihan konsumen adalah dorongan. Dorongan merupakan reaksi terhadap informasi yang diterima konsumen. Proses informasi terjadi ketika konsumen mengevaluasi informasi dari periklanan, teman, atau pengalaman sendiri terhadap suatu produk.

Pengaruh yang kedua dan pengaruh sentral atas pilihan konsumen adalah konsumen. Konsumen digambarkan dengan variabel pemikiran dan karakteristik. Variabel pemikiran konsumen adalah faktor kognitip yang mempengaruhi pengambilan keputusan.

Tiga tipe variabel pemikiran berperan secara esensial dalam pengambilan keputusan : (1) persepsi karakteristik merek
(2) sikap lanjutan terhadap merek
(3) manfaat keinginan konsumen.

Karakteristik konsumen adalah variabel seperti demografis, gaya hidup, dan karakteristik personalia yang digunakan untuk menggambarkan konsumen. Manajer pemasaran pertama menetukan apakah karakteristik tersebut berhubungan atau tidak terhadap perilaku kemudian menggunakan pengetahuan itu untuk mempengaruhi perilaku.Contoh bila pengguna nutrisi dewasa cenderung menjadi muda, berpenghasilan tinggi, berpendidikan, maka pesan iklan dirancang untuk menyesuaikan terhadap grup tersebut.

Pengaruh ketiga atas pilihan konsumen adalah respon konsumen adalah hasil akhir proses keputusan konsumen dan merupakan pertimbangan integral seluruh buku ini. Respon konsumen umumnya berkenaan terhadap pilihan merek, namun bisa juga berkenaan terhadap pilihan kategori produk, pilihan toko, pilihan media komunikasi (mencari informasi dari TV ,radio atau membaca majalah).

DAFTAR PUSTAKA

Wahana, Jaka dan Kirbrandoko, 1995, Pengantar Mikro Ekonomi Jilid I, Terjemahan Cetakan pertama, Binarupa Aksara, Jakarta
http://www.endz4shared.co.cc/2010/03/1.html

Selasa, 09 November 2010

METODE RISET ( Review Jurnal 1,2,3 )

Nama : Windi Dwi Saputro

Kelas : 3 ea 11

Npm : 11208292



REVIEW JURNAL 1

1.a. Tema / topik : Hiv Aids

b. Judul : Strategi penanggulangan Hiv Aids

pengarang : Holmes (Review of human immunodeficiency virus type 1-related opportunistic infections in sub-Saharan Africa

Tahun : 2003

c. Alasan : Dengan semakin meluasnya penyebaran virus Hiv aids diharapkan masyarakat mampu dan memahami apa itu penyakit Hiv Aids

Masalah : 1. Adakah obat yang mampu mengatasi virus Hiv Aids ?

2. Bagaimana jika sudah terjangkit Virus Hiv Aids ?

d. Metodologi

Data : Taking Risk of Taking Responsibility (Panos, London, 1999)

Variabel penelitian : Variabel Bebas

Terapan Penelitian : 1. Analisis data secara statistic deskriptif
2. Evaluasi keseluruhan

e. Hasil dan kesimpulan : Dengan melihat data maupun keterangan yang telah dijabarkan diatas, jelaslah bahwa penyakit/virus HIV sangat membahayakan bahkan lambat laun bisa mematikan. Untuk itu kita semua harus selalu waspada dengan cara menjauhkan diri dari segala perbuatan yang dapat menyebabkan penularan HIV/AIDS, terutama sex bebas dalam arti tanpa menggunakan alat kontrasepsi.

f. saran lanjutan : Bagi penulis berikutnya disarankan menambah variabel tingkat pembanding dan jumlah penderita Hiv Aids

REVIEW JURNAL 2

2.a. Tema / topik : Hiv Aids

b. Judul : Penyebaran Virus Hiv Aids

pengarang : Djoerban Z & Djauzi S

Tahun : 2006

c. Alasan : Hukuman sosial bagi penderita HIV/AIDS, umumnya lebih berat bila dibandingkan dengan penderita penyakit mematikan lainnya. Terkadang hukuman sosial tersebut juga turut tertimpakan kepada petugas kesehatan atau sukarelawan, yang terlibat dalam merawat orang yang hidup dengan HIV/AIDS.

Masalah : 1. Bagaimana cara penyebaran virus Hiv Aids ?

2. Berapa orang yang telah terinfeksi virus Hiv Aids ?

3. Infeksi opertunistik lannya ?

d. Metodologi

Data : Primer.

Variabel penelitian : Dengan tingkat penyebaran Hiv Aids.

1. Cepat

2. Sedang

3. Lambat

4. Sangat Lambat

Terapan Penelitian : 1. Menganalisis penyebaran Hiv Aids
2. Pemetaan karakteristik penderita Hiv Aids.

Tahap Uji T

e. Hasil dan kesimpulan

Hasil hanya 2 indikator yaitu :

Ho : Virus Hiv Aids dapat menyebabkan kematian.

Ha : Virus Hiv Aids tidak dapat menyebabkan kematian.

Jika nilai Ho lebih kecil dibanding dengan Ha maka, Ho ditolak. Berarti virus Hiv Aids dapat menyebabkan kematian

Kesimpulan : Pada umumnya virus Hiv Aids menyebabkan kematian dan dapat di derita oleh siapa saja.

f. Saran lanjutan : Diharapkan pendekatan ini akan digalakkan di banyak negara yang terinfeksi HIV paling parah, walaupun penerapannya akan berhadapan dengan sejumlah isu sehubungan masalah kepraktisan, budaya, dan perilaku masyarakat.

REVIEW JURNAL 3

3.a. Tema / topik : Hiv Aids

b. Judul : Patogenesis Hiv Aids

pengarang : Siregar, Fadizah A.

Tahun : 2004

c. Alasan dan Masalah : Kita semua mungkin sudah banyak mendengar cerita-cerita yang menyeramkan tentang Hiv Aids. Penyebrangan Aids itu berlangsung secara cepat dan mungkin sekrang sudah ada disekitar kita. Sampai sekarang belum ada obat yang bisa menyembuhkan AIDS, bahkan penyakit yang saat ini belum bisa dicegah dengan vaksin. Tapi kita semua tidak perlu takut. Jika kita berprilaku sehat dan bertanggung jawab serta senantiasa memegang teguh ajaran agama, maka kita akan terbebas dari Hiv Aids.

d. Metodologi

Data : Variabel Independen :

Tangible(X1), Reliability (X2), Responsiveness(X3), Assurance(X4), Empathy(X5)

Variabel Dependen :

Penderita Hiv yang masih hidup (Y1), Penderita Hiv yang sudah meninggal (Y2).

Penderita Hiv Aids mencakup :

1. Afrika

2. Asia Selatan

3. Asia Tenggara

Model : Model sampling

Sampel diambil secara acak sistematik dan dihitung berdasarkan rumus sampel minimal dengan menetapkan jumlah sampel dibulatkan menjadi 100 responden. Dengan tingkat kepercayaan 0,01 dalam pengujian normalitas.

Terapan Penelitian : 1. Pengujian Validitas untuk skala penderita Hiv Aids

Afrika , Asia Selatan , Asia Tenggara.

Uji Validitas

Bila setiap indikator memiliki critical ratio yang lebih besar dari 2 kali standar errornya, maka menunjukkan bahwa indikator itu secara valid mengukur apa yang seharusnya diukur dalam model yang disajikan.

2. pengujian reliabilitas alat ukur

Dalam penelitian reliabilitas eksploratori reliabilitas yang sedang antara 0,5-0,6 sudah cukup untuk menguji sebuah hasil penelitian.

3. Teknik Pengujian Hipotesis

Untuk menguji hipotesis dugunakan Struktural Equation Modelign(SEM)yaitu bentuk perluasan atau kombinasi teknik untuk pengujian sebuah rangkaian hubungan yang relatif rumit secara simultan, pengoperasiannya dengan paket program AMOS 5.

e. Hasil dan pembahasan : a. Pengujian Instrumen Penelitian (Validitas dan Reliabilitas)

b. Pengujian Asumsi-Asumsi SEM

c. Uji Korelasi

d. Uji Model

e. Analisis atas Direct Effect, Inderect Effect, dan Total Effect

Kesimpulan : Hasil penelitian menunjukkan untuk pengaruh dimensi tangible (X1) terhadap Penderita Hiv yang masih hidup (Y1) diperoleh nilai C.R sebesar 3,290 (p=0,001) menunjukkan bahwa tangible berpengaruh signifikan terhadap virus Hiv, pengaruh antara reliability(X2) terhadap Penderita Hiv yang masih hidup ( Y1) diperoleh C.R sebesar 0,853 (p=0,394) sehingga reliability berpengaruh signifikan terhadap, Penderita Hiv yang masih hidup. pengaruh antara dimensi responsiveness(X3) terhadap Penderita Hiv yang masih hidup diperoleh nilai C.R sebesar 1.116 (p=0,264) sehingga responsiveness tidak berpengaruh signifikan terhadap Penderita Hiv yang masih hidup. Pengaruh antara assurance diperoleh C.R sebesar 2,420 (p=0,016) sehingga assurance berpengaruh signifikan terhadap. Penderita Hiv yang masih hidup Pengaruh antara dimensi emphaty(X5) terhadap Penderita Hiv yang masih hidup diperoleh nilai CR sebesar 0,608 (p=0,543) sehingga emphaty berpengaruh signifikan terhadap. Penderita Hiv yang masih hidup Pengaruh antara Penderita Hiv yang masih hidup (Y1) dengan Penderita Hiv yang sudah meninggal (Y2) diperoleh C.R sebesar (7,708 (p=0,000). Maka setiap indikator pasti saling berkaitan dengan adanya hubungan timbal balik antar satu sama lain yang memeberikan efek yang signifikan maupun tidak signifikan terhadap Hiv Aids.

f. Saran lanjutan : Dengan demikian jika ingin terhindar dari Hiv Aids kita harus berprilaku sehat dan bertanggung jawab serta senantiasa memegang teguh ajaran agama, maka kita akan terbebas dari Hiv Aids.

Jumat, 05 November 2010

Pengaruh Budaya Terhadap Perilaku Konsumen

PENDAHULUAN

Sebagaimana kita ketahui, bahwa selain factor internal, seorang konsumen dalam memutuskan membeli sebuah produk dan jasa juga dipengaruhi oleh factor eksternal . Diantara ketiga pengaruh yaitu :

1.Pengaruh budaya terhadap perilaku konsumen

2.Peran anggota keluarga dalam pengambilan keputusan pembelian

3.Peranan kelompok acuan dalam keputusan pembelian.

Diantara ketiga factor tersebut saya ingin memilih yang nomor satu yaitu
Pengaruh Budaya Terhadap Perilaku Konsumen hal ini dikarenakan memang
dilingkungan sekitar saya bahkan diri saya sendiri, saya akui memang factor budaya
cukup berpengaruh besar dalam proses pembelian, untuk itulah saya lebih memilih judul
ini daripada factor yang lainnya.

Penelitian mengenai budaya menjadi sangat penting karena budaya
mempengaruhi keseluruhan masyarakat itu sendiri. Dalam makalah ini akan dibahas
penerapan budaya serta pengaruhnya terhadap perilaku konsumen,misalnya dalam
pembelian suatu produk atau jasa.

Dalam kaitannya dengan perilaku konsumen, budaya dapat didefinisikan sebagai
sejumlah total dari beliefs values dancust oms yang dipelajari yang ditujukan pada
perilaku konsumen dari anggota masyarakat tertentu.

Dengan memahami beberapa bentuk budaya dari masyarakat, dapat membantu penjual atau produsen dalam memprediksi penerimaan konsumen terhadap produk mereka. Mulai dari bagaimana tanggapan konsumen, reaksi konsumen, ataupun kritik dari konsumennya. Pengaruh budaya sangat alami dan otomatis sehingga pengaruhnya terhadap perilaku sering diterima begitu saja, atau dalam kata lainnya pengaruh ini sangat tidak disadari oleh masyarakat, barulah ketika kita berhadapan dengan masyarakat yang memiliki budaya, nilai dan kepercayaan yang berbeda dengan kita, kita baru menyadari bagaimana budaya telah membentuk perilaku kita. Yang kemudian akan muncul apresiasi terhadap budaya kita sendiri bila kita berhadapan dengan budaya yang berbeda. Misalnya, di budaya yang bisa melakukan pernikahan sesame jenis tentu akan merasa bahwa itu budaya yang tidak masuk akal dan merupakan hal yang tidak baik dibandingkan dengan budaya yang memang melarang keras hubungan sesama jenis.

PEMBAHASAN

Untuk lebih memahami tentang tema ini akan menjelaskan 5 aspek
tentang Negara Jepang sebagai tolak ukur bahwa budaya memanglah sangat berpengaruh
pada perilaku konsumen.

1.Health ( segi kesehatan)

2.Youthfulness (segi keawetmudaan)

3.Freedom ( kebebasan )

4.Efficien dan practice ( daya guna dan praktis )

5.Activity ( aktivitas)

Berikut ini akan dibahas 5 aspek bahwa budaya luar masuk ke Indonesia sehingga memperngaruhi dalam perilaku konsumen :

1. Health ( segi kesehatan)

Orang-orang di Jepang sangat memperhatikan kesehatan dan kebugaran tubuhnya, bahkan untuk para wanita nya tubuh kurus langsing merupakan hal yang mutlak dimilik oleh setiap wanita dan ini telah dianggap sebagai suatu nilai inti. Nilai inti pada masyarakat Jepang terutama wanita ini tergambarkan melalui berbagai cara misalnya saja olahraga seperti fitness dan jogging.

Karena hal itulah maka adanya peningkatan dalam penjualan alat-alat olahraga dan tablet pelangsing tubuh atau bahkan tea yang bisa melangsingkan tubuh serta adanya peningkatan dalam penjualan vitamin. Berdasarkan trend atau budaya ini, berkembang suatu pendapat bahwa memang budaya lah yang menyebabkan pola perilaku masyarakat jepang berubah dan meningkatkan daya beli produk-produk yang sifatnya melangsingkan atau menyehatkan tubuh.

2. Youthfulness (segi keawetmudaan)

Keawetmudaan (youthfulness) sangat berbeda dengan pemuda (youth) yang merupakan suatu tingkatan umur. Orang Jepang sangat terobsesi untuk terlihat muda dan berperilaku seperti orang yang muda, meskipun berlawanan dengan usia mereka sebenarnya. Bagi masyarakat jepang, selain melalui pikiran-pikiran keawetmudaaan juga terpancarkan dari perilaku mereka., yang kadang-kadang diekspresikan melalui kata-kata seperti berjiwa muda, bersemangat muda, dan berpenampilan muda atau biasa disebut dengan up to date sehingga produsen kosmetik berbondong-bondong menciptakan produk yang menggambarkan betapa banyak wanita yang berperang melawan penuaan dini. Perusahaan-perusahaan periklanan memanfaatkan ketakutan penuaan terutama bagikaum wanita ini untuk menciptakan suatu trend di masyarakat mengenai pentingnyamenjaga kemudaan dan menanamkan rasa takut akan penuaan. Tema-tema iklan dibuatdengan mengumbar janji bahwa konsumen akan memperoleh keuntungan bila terlihat awet muda dan tentu akan lebih menyenangkan jika tua´ itu datangnya sangat lama.

3. Freedom ( kebebasan )

Seperti kita ketahui bahwa banyak Negara-negara luar penganut budaya kebebesan, dan salah satunya adalah Negara Jepang, dalam sejarah seperti kita ketahui Jepang selalu berpendapat bahwa kebebasan berbicara, kebebasan pers, sebagai nilai utama.Perkembangan dari kepercayaan akan kebebasan ini, Jepang percaya bahwa mereka punya kebebasan untuk memilih. Hal ini dapat terlihat dari bebasnya gaya berpakaian mereka, mulai dari pejalan kaki yang bisa menggunakan jas, sangat berbeda dengan di Indonesia, jika ada pejalan kaki yang menggunakan jas pasti terlihat aneh, hingga seragam sekolah di Jepang yang sangat unik menurut saya. Hal ini direfleksikan dengan kompetisi dari merk dan variasi produk.Pada banyak pilihan produk baik ukuran, warna, gaya, sehingga masyarakat Jepang terlihat lebihf ashionable ketimbang di Indonesia. Ini juga menjelaskan kenapa banyak perusahaan menawarkan konsumen banyak pilihan.

4. Efficien dan practice ( daya guna dan praktis )

Efisien merupakan sesuatu yang hemat waktu dan usaha. Sedangkan praktis berhubungan dengan produk yang baru membuat pekerjaan dapat dilakukan dengan lebih mudah dalam memecahkan masalah.

Ilustrasi yang mudah menggambarkan hal ini adalah banyaknya makanan dan minuman cepat saji yang tersedia di berbagai tempat di Jepang, mulai dari mie instan, bubur instan, berbagai minuman botol isntan, hingga bumbu untuk memasak pun isntan. Karena memang kita tahu bahwa masyarakat Jepang sangat menghargai waktu, dan tekhnologi pula lah yang membuat semua menjadi serba efektif dan lebih praktis.

5. Activity ( aktivitas)

Menjadi sibuk merupakan bagian dari gaya hidup masyarakat Jepang. Gaya hidup ini seringkali dikomentari oleh pendatang dari luar negri, kenapa orang-orang Jepang selalu berlari dan sepertinya tidak pernah menjadi relax. Aktivitas ini memiliki dampak pada konsumsi barang.


KESIMPULAN

Dari 5 aspek tolak ukur budaya Jepang yang masuk ke Indonesia sudah bisa terlihat jelas
bahwa budaya memang sangat mempengaruhi perilaku konsumen, mulai dari pola hidup yang
mungkin secara tidak sadar terpengaruh yang memungkinkan adanya daya beli dalam pengaruh
budaya tersebut.

Memang betul perilaku konsumen bisa dari gaya hidup contoh nyata yang mungkin dapat
lebih memperjelasnya adalah Starbuck Café Jika kita lihat, buat apa buka kedai kopi? Di
pinggir jalan juga banyak tersedia warung kopi. Nah, budaya masyarakat kota metropolitan itu selalu mengikuti tren yang memang sedang berlaku. Oleh karena itu, ketika tren muncul adanya kedai kopi yangcozy, tempatnya menyenangkan bisahot spot gratis atau ketemu sama
teman-temang maupun rekan bisnis lainnya tempat itu bisa sangat nyaman dijadikan tempat
ngobrol ataupun bertransaksi, lalu ditambah ada hotspot area yg membuat pengunjung bisa
internet scara gratis (yang masih budaya Indonesia) membuat kedai tersebut bisa mendatangkan
pengunjung yang banyak, kita tahu semua bahwa kedai kopi itu memang berasal dari luar negeri.

Jadi kesimpulan terakhir menurut saya adalah bahwa memang benar budaya sangat
memperngaruhi perilaku manusia, tidak hanya dari segi aspek pola hidup saja tetapi dari daya
belinya juga, untuk itu kita harus pintar menyaring budaya-budaya luar yang bisa kapan saja dan
melalui apa saja masuk ke Indonesia, budaya positif dapat kita tiru atau ambil, dan sebaliknya
ketika budaya itu buruk dan kita semua sebagai masyarakat Indonesia tidak bisa menolaknya,
maka bangsa ini pun akan semakin terpuruk.

DAFTAR PUSTAKA

Hurriyati, Ratih. 2005.Bauran Pemasaran dan Loyalitas Konsumen. Bandung: Alfabeta.

Umar, Husein.2005. Riset Pemasaran dan Perilaku Konsumen. Jakarta: Gramedia

Strategi Pemasaran.Jakarta: Erlangga

Pengaruh Budaya Terhadap Perilaku Konsumen

PENDAHULUAN

Sebagaimana kita ketahui, bahwa selain factor internal, seorang konsumen dalam memutuskan membeli sebuah produk dan jasa juga dipengaruhi oleh factor eksternal . Diantara ketiga pengaruh yaitu :
1.Pengaruh budaya terhadap perilaku konsumen
2.Peran anggota keluarga dalam pengambilan keputusan pembelian
3.Peranan kelompok acuan dalam keputusan pembelian.
Diantara ketiga factor tersebut saya ingin memilih yang nomor satu yaitu
Pengaruh Budaya Terhadap Perilaku Konsumen hal ini dikarenakan memang
dilingkungan sekitar saya bahkan diri saya sendiri, saya akui memang factor budaya
cukup berpengaruh besar dalam proses pembelian, untuk itulah saya lebih memilih judul
ini daripada factor yang lainnya.
Penelitian mengenai budaya menjadi sangat penting karena budaya
mempengaruhi keseluruhan masyarakat itu sendiri. Dalam makalah ini akan dibahas
penerapan budaya serta pengaruhnya terhadap perilaku konsumen,misalnya dalam
pembelian suatu produk atau jasa.
Dalam kaitannya dengan perilaku konsumen, budaya dapat didefinisikan sebagai
sejumlah total dari beliefs values dancust oms yang dipelajari yang ditujukan pada
perilaku konsumen dari anggota masyarakat tertentu.
Dengan memahami beberapa bentuk budaya dari masyarakat, dapat membantu penjual atau produsen dalam memprediksi penerimaan konsumen terhadap produk mereka. Mulai dari bagaimana tanggapan konsumen, reaksi konsumen, ataupun kritik dari konsumennya. Pengaruh budaya sangat alami dan otomatis sehingga pengaruhnya terhadap perilaku sering diterima begitu saja, atau dalam kata lainnya pengaruh ini sangat tidak disadari oleh masyarakat, barulah ketika kita berhadapan dengan masyarakat yang memiliki budaya, nilai dan kepercayaan yang berbeda dengan kita, kita baru menyadari bagaimana budaya telah membentuk perilaku kita. Yang kemudian akan muncul apresiasi terhadap budaya kita sendiri bila kita berhadapan dengan budaya yang berbeda. Misalnya, di budaya yang bisa melakukan pernikahan sesame jenis tentu akan merasa bahwa itu budaya yang tidak masuk akal dan merupakan hal yang tidak baik dibandingkan dengan budaya yang memang melarang keras hubungan sesama jenis.

PEMBAHASAN

Untuk lebih memahami tentang tema ini akan menjelaskan 5 aspek
tentang Negara Jepang sebagai tolak ukur bahwa budaya memanglah sangat berpengaruh
pada perilaku konsumen.
1.Health ( segi kesehatan)
2.Youthfulness (segi keawetmudaan)
3.Freedom ( kebebasan )
4.Efficien dan practice ( daya guna dan praktis )
5.Activity ( aktivitas)
Berikut ini akan dibahas 5 aspek bahwa budaya luar masuk ke Indonesia sehingga memperngaruhi dalam perilaku konsumen :



1. Health ( segi kesehatan)
Orang-orang di Jepang sangat memperhatikan kesehatan dan kebugaran tubuhnya, bahkan untuk para wanita nya tubuh kurus langsing merupakan hal yang mutlak dimilik oleh setiap wanita dan ini telah dianggap sebagai suatu nilai inti. Nilai inti pada masyarakat Jepang terutama wanita ini tergambarkan melalui berbagai cara misalnya saja olahraga seperti fitness dan jogging.
Karena hal itulah maka adanya peningkatan dalam penjualan alat-alat olahraga dan tablet pelangsing tubuh atau bahkan tea yang bisa melangsingkan tubuh serta adanya peningkatan dalam penjualan vitamin. Berdasarkan trend atau budaya ini, berkembang suatu pendapat bahwa memang budaya lah yang menyebabkan pola perilaku masyarakat jepang berubah dan meningkatkan daya beli produk-produk yang sifatnya melangsingkan atau menyehatkan tubuh.
2. Youthfulness (segi keawetmudaan)
Keawetmudaan (youthfulness) sangat berbeda dengan pemuda (youth) yang merupakan suatu tingkatan umur. Orang Jepang sangat terobsesi untuk terlihat muda dan berperilaku seperti orang yang muda, meskipun berlawanan dengan usia mereka sebenarnya. Bagi masyarakat jepang, selain melalui pikiran-pikiran keawetmudaaan juga terpancarkan dari perilaku mereka., yang kadang-kadang diekspresikan melalui kata-kata seperti berjiwa muda, bersemangat muda, dan berpenampilan muda atau biasa disebut dengan up to date sehingga produsen kosmetik berbondong-bondong menciptakan produk yang menggambarkan betapa banyak wanita yang berperang melawan penuaan dini. Perusahaan-perusahaan periklanan memanfaatkan ketakutan penuaan terutama bagikaum wanita ini untuk menciptakan suatu trend di masyarakat mengenai pentingnyamenjaga kemudaan dan menanamkan rasa takut akan penuaan. Tema-tema iklan dibuatdengan mengumbar janji bahwa konsumen akan memperoleh keuntungan bila terlihat awet muda dan tentu akan lebih menyenangkan jika tua´ itu datangnya sangat lama.
3. Freedom ( kebebasan )
Seperti kita ketahui bahwa banyak Negara-negara luar penganut budaya kebebesan, dan salah satunya adalah Negara Jepang, dalam sejarah seperti kita ketahui Jepang selalu berpendapat bahwa kebebasan berbicara, kebebasan pers, sebagai nilai utama.Perkembangan dari kepercayaan akan kebebasan ini, Jepang percaya bahwa mereka punya kebebasan untuk memilih. Hal ini dapat terlihat dari bebasnya gaya berpakaian mereka, mulai dari pejalan kaki yang bisa menggunakan jas, sangat berbeda dengan di Indonesia, jika ada pejalan kaki yang menggunakan jas pasti terlihat aneh, hingga seragam sekolah di Jepang yang sangat unik menurut saya. Hal ini direfleksikan dengan kompetisi dari merk dan variasi produk.Pada banyak pilihan produk baik ukuran, warna, gaya, sehingga masyarakat Jepang terlihat lebihf ashionable ketimbang di Indonesia. Ini juga menjelaskan kenapa banyak perusahaan menawarkan konsumen banyak pilihan.
4. Efficien dan practice ( daya guna dan praktis )
Efisien merupakan sesuatu yang hemat waktu dan usaha. Sedangkan praktis berhubungan dengan produk yang baru membuat pekerjaan dapat dilakukan dengan lebih mudah dalam memecahkan masalah.
Ilustrasi yang mudah menggambarkan hal ini adalah banyaknya makanan dan minuman cepat saji yang tersedia di berbagai tempat di Jepang, mulai dari mie instan, bubur instan, berbagai minuman botol isntan, hingga bumbu untuk memasak pun isntan. Karena memang kita tahu bahwa masyarakat Jepang sangat menghargai waktu, dan tekhnologi pula lah yang membuat semua menjadi serba efektif dan lebih praktis.
5. Activity ( aktivitas)
Menjadi sibuk merupakan bagian dari gaya hidup masyarakat Jepang. Gaya hidup ini seringkali dikomentari oleh pendatang dari luar negri, kenapa orang-orang Jepang selalu berlari dan sepertinya tidak pernah menjadi relax. Aktivitas ini memiliki dampak pada konsumsi barang.



KESIMPULAN
Dari 5 aspek tolak ukur budaya Jepang yang masuk ke Indonesia sudah bisa terlihat jelas
bahwa budaya memang sangat mempengaruhi perilaku konsumen, mulai dari pola hidup yang
mungkin secara tidak sadar terpengaruh yang memungkinkan adanya daya beli dalam pengaruh
budaya tersebut.
Memang betul perilaku konsumen bisa dari gaya hidup contoh nyata yang mungkin dapat
lebih memperjelasnya adalah Starbuck Café Jika kita lihat, buat apa buka kedai kopi? Di
pinggir jalan juga banyak tersedia warung kopi. Nah, budaya masyarakat kota metropolitan itu selalu mengikuti tren yang memang sedang berlaku. Oleh karena itu, ketika tren muncul adanya kedai kopi yangcozy, tempatnya menyenangkan bisahot spot gratis atau ketemu sama
teman-temang maupun rekan bisnis lainnya tempat itu bisa sangat nyaman dijadikan tempat
ngobrol ataupun bertransaksi, lalu ditambah ada hotspot area yg membuat pengunjung bisa
internet scara gratis (yang masih budaya Indonesia) membuat kedai tersebut bisa mendatangkan
pengunjung yang banyak, kita tahu semua bahwa kedai kopi itu memang berasal dari luar negeri.
Jadi kesimpulan terakhir menurut saya adalah bahwa memang benar budaya sangat
memperngaruhi perilaku manusia, tidak hanya dari segi aspek pola hidup saja tetapi dari daya
belinya juga, untuk itu kita harus pintar menyaring budaya-budaya luar yang bisa kapan saja dan
melalui apa saja masuk ke Indonesia, budaya positif dapat kita tiru atau ambil, dan sebaliknya
ketika budaya itu buruk dan kita semua sebagai masyarakat Indonesia tidak bisa menolaknya,
maka bangsa ini pun akan semakin terpuruk.

DAFTAR PUSTAKA
Hurriyati, Ratih. 2005.Bauran Pemasaran dan Loyalitas Konsumen. Bandung: Alfabeta.
Umar, Husein.2005. Riset Pemasaran dan Perilaku Konsumen. Jakarta: Gramedia
Strategi Pemasaran.Jakarta: Erlangga